Wonder Action

Welcome to our blog! Feel free to read, comment, and send us feedback! :) x

Fanfics here!

Read, comment and give us feedback! :D

Follow us here!

Follow us to get latest update! (maybe :p)

Welcome

Read our fanfics!

Fangirl!

Fangirl with us on twitter!

Minggu, 14 Oktober 2012

LoLS!

Louis Love Story by @micheelskalalo

uda pada baca longary nya min shaf kan?? okeh ini beda.. ini pertama kalinya mimin micheel bikin lols... disini anggap ya gada ele ;)

enjoy yah maap kalo jelek...


oke.. nama gua vina.. gua anak orang kaya.. gua tinggal di UK hari ini gua mau ketemu temen lama gua nih... namanya louis tomlinson.. dia temen gua dari kecil..

sekarang gua nungguin dia di taman ... tempat biasa dulu gua main sama dia.. gua tau sekarang dia uda gabung di one direction. karna x-factor... kenapa gua tau karna gua selain sahabatnya gua juga directioner UK ... gua gapernah lost contact sama dia... selalu telponan smsan skypean ato lainlain...


*nah lo uda panjang lebar louisnya mana*


sambil ngedumel nungguin louis gua duduk di taman itu.. dengerin lagu secara gua directioner... gua dengerin lagu 1D dong... judulnya... astuti... eh maksutnya every thing about you.. lalu ada orang yang duduk samping gua ngasih eskrim... dan tebakk.. itu louis...
l:"maap gua telat nih es krim... rasa pisang yang paling lo doyan waktu kecil" menyodorkan eskrim ca*pina berbentuk spongebob...
v:" gapapa gua tau lo sibuk... btw makasih eskrimnya.. gua doyan banget kok lu masi inget aja??"
l:" inget lah babe... "
v:" idih apasih babebabe-an... kan cuman temen..."
l:" lo sekarang mau kemana?"
v:"kemana?? seterah lo deh... maunya kemana??"
l: "hmm.. kemana ya... mau ke hatimu aja boleh gak???"

*kenapa percakapannya begini...*
v:" ah lo.. demen banget ngelawak dari kecil.. kerumah gua aja yok.. ada soup wortel sama jus wortel loh.. mau gak?"
l:" ayoo... mau kok lu tau gua laper sih.. kemon.. naik mobil gua mau? harus mau oke sip"

Sabtu, 18 Agustus 2012

Harry Short Story

HSS by Nae


***

Aku mengadahkan tanganku, merasakan rintik-rintik hujan yang turun.


Rintik-rintik hujan itu, yang pertama hanya turun
pelan-pelan. Kini deras, mengguyur badanku dengan kencangnya.

Menutup air mata ini yang sudah turun lebih dahulu.
Sakit.

Dibandingkan dinginnya hujan, yang kurasakan hanya sakit hati ini.

Menancap terlalu dalam seperti kayu yang di tusukkan langsung ke dada kiriku.

Tiga kali.

Tiga kali aku di selingkuhi oleh James.

Dan hari ini aku menutup kisahku dengannya. Menutup hatiku untuknya lagi.

Aku tak menyangka, bahwa rasanya akan sesakit ini.


Vincentia, apakah kamu tak bisa lebih kuat dari
ini? Kamu hanya putus dengan laki-laki yang hanya berpacaran empat bulan denganmu. Bukan dengan Josh, orang yang pernah kamu pacari lebih dari lima tahun.
Aku tertawa getir. Tertawa karena kebodohanku.




James, you’re bastard.

**********



aku membuka mataku pelan, perih.

“Ugh,” rintihku, palaku pusing bukan main. Aku memegang dahiku,

Kain basah apa ini?

Aku duduk dari posisi tidurku, melihat dengan jelas kain basah ini. Seperti kompresan.


Tunggu, kamar siapa ini? Aku bangkit dari ranjang.

Holyshit. INI RUMAH SIAPA?


Aku mencoba turun dari ranjang, tapi kepalaku benar-benar tak bisa di ajak kompromi. Aku mencoba berjalan pelan menuju pintu kamar yang tertutup dengan tetap memegangi sudut ranjang, tapi tetap saja
aku jatuh. Ohya, dengan bunyi gedebuk keras.


“Aduuh, anjir sakit banget” aku merintih, menyumpah-nyumpah dalam bahasa Indo, mencoba bangun tapi tetap tak bisa. Kakiku keram.

Dan saat itu aku bisa mendengar suara orang mellangkah, tidak lebih tepatnya berlari menuju kesini. Yang bisa kulakukan hanya mematung, ingin sembunyi tapi kaki seperti ini. Mau bagaimana lagi?
Dan pintu menjeblak terbuka,


“what!? What the so- HOLY SHIT! Kenapa kamu bisa di bawah begitu?”

Cowok berambut keriting itu berjalan kearahku memegangi lenganku dan mencoba untuk membuatku berdiri, aku hanya menatap mata hijaunya yang sangat...


“Can you stand?” tanyanya, membuatku sadar
“U-oh. Kakiku keram”
“Come on, I’ll help you”


Ia memapahku berdiri, dan mendudukanku di pinggir kasur.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya, aku menatap matanya yang menatapku khawatir.

“Lumayan, tapi pusing”
Aku tersenyum, ia balas tersenyum, senyum khawatir.
Ia memegang dahiku, “sudah tak demam lagi, untung saja”

Ia berdiri, “lebih baik kamu tidur lagi, masih kurang sehat”

Aku hanya mengangguk,

“panggil aku kapanpun kamu butuh, aku hanya di ruang tamu. Di samping kamar ini”

Aku mengangguk,

“sejam lagi, akan kubawakan bubur”

Aku mengangguk, tersenyum

“Thank you,”

Ia tersenyum dan mengangguk, lalu berjalan menuju pintu,

Aku berani bersumpah, wajahnya sangat familiar.

“Uh, wait” aku memanggilnya

Ia menoleh “what?”

“what’s your name?”

Ia terdiam beberapa detik, kemudian tersenyum lebar
memperlihatkan lesung pipinya.

“Harry”

“uh, oh. Okay. Thanks for everything Harry” aku
tersenyum kikuk.

Ia tersenyum, lalu menutup pintu.

Harry. Harry. Harry. Harry.

Mukanya familiar, tapi aku tak mengetahuinya.
Harry.... satu-satunya Harry yang kutahu Cuma Harry Potter. Lol.

Aku mencoba tertidur, dan dalam satu menit aku sudah di alam mimpi.


“hey, hey. Wake up”

Aku membuka mata pelan. Harry.

Aku merubah posisiku menjadi duduk, menyender ke kepala ranjang. Harry duduk di sudut ranjang, tepat di sampingku.

“This” ia memberiku semangkuk bubur, aku mengambilnya dan membuka tutupnya.

“Thank you”

“your welcome” Ia tersenyum, lalu berdiri.

“Hey,” aku menahannya.

Ia berbalik, menatapku dengan padangan bertanya

“Could you.....” aku tak berani melanjutkannya, terkesan seperti benar-benar meminta, lagipula aku baru bertemu dengannya.

Tapi Harry mengangguk, seakan-akan mengerti apa yangaku ingin katakan.

“Sure,” ia berjalan kembali ke arahku dan duduk seperti tadi,

“thank you. aku hanya ingin.... ada teman mengobrol”
Ia tersenyum, “No prob. Eat it”
Aku mengangguk, memakan bubur pelan-pelan

“What’s your name?” tanyanya, membuka pembicaraan.

“Vincentia,”

Ia mengangguk,

“berapa lama aku disini?”

Harry menimbang-nimbang, “dua hari”

Aku tersedak. “DUA HARI?”

“yes” Harry tersenyum canggung.

“dan jangan khawatir, bukan aku yang mengganti
pakaianmu” Harry tersenyum.

What? Pakaian? Aku menyibakkan selimut yang menutupi badanku.


Ohyah, aku pake baju orang lain.


Baju cowok.

“si-siapa?” tanyaku gelagapan. Aku bisa melihat bahwa Harry sedang menahan tawa.
“well, thats clothes is mine”


Shit.


“Hey hey, Vincentia?” Harry memanggilku yang membuang muka. Sumpah. Malu. Banget.

“Heeey, don’t angry please” dia memegang daguku dengan jari-jarinya yang membuatku tiba-tiba merinding.

I know what this feeling. Likes butterflies fly in your stomach, i feel it now.

“Hey,” suara Harry begitu dekat dengan telingaku, membuatku otomatis menengok.

Sangat dekat. Dan itu membuatku membeku. Membeku
oleh tatapannya. Mata hijaunya yang baru dua jam lalu membuatku terpesona.

Kini dalam jarak kurang dari lima belas senti.
His eyes.


suddenly I woke up from the ice. I backed away slowly, do not want this feeling is even greater.
But, Harry grabbed my arm, made me face him again.



Make our lips meet.





Now, I believe about love at first sight.




***SevenMonthsLater

“I don’t care” aku tersenyum, berusaha menyakinkan Harry. Harry menatapku cemas,

“Are you serious?”

“Yes I just... listen Harry, that’s just rumor right?” harry cepat-cepat mengangguk

“100% rumors, itu hanya majalah yang menulis seperti itu. Sungguh”

Aku tersenyum kepadanya. Although my heart is full of pain because the newspaper i read, it’s okay. I’m
strong, i know that. And i trust him. Difinetely.

“you don’t kiss her” aku menggumam, pikiranku menerawang
“yes”
“whats her name?”
“Victoria,”
“apa yang dia lakukan di airport?”
“dia directioner”

Aku membuang muka, dua patah kata itu sudah cukup menjelaskan segalanya. Ugh. Pastilah. Directioner pasti mau berdesak-desakan dengan yang lainnya. Menunggu mereka berlima muncul dan mengambil foto dengan mereka.

Sampai mengambil kesempatan mencium mereka.
mungkin aku tak akan secemburu dan ingin menangis
jika ciuman di pipi.


Tapi ini? In lips.

Aku tak membenci mereka, directioners itu baik. Sangat, malah.

Tapi jika seperti ini mau bagaimana lagi?

I’ll hit Vicslutoria if I meet her. Seriously.


Untung Harry datang lima hari setelah berita ini
beredar, mungkin kalo hari saat berita ini beredar ia akan menemukanku sedang menangis di flat hingga tak keluar selama tiga hari.


Aku harus berterima kasih kepada Elyn dan Novi, jika tak ada Elyn yang mengetahui detail rumor itu dari kakaknya, Liam, dan jika tak ada Novi yang mengetahuinya juga dari Niall mungkin aku sudah menelepon Harry dan meminta break up.


But I don’t.

“Vincentia?”
“U-egh yeah?” aku tersadar dari lamunanku
“you....... trust me?”
Aku tersenyum tulus, “Of course”
Ia memelukku, erat. “Thank you. thank you so much”



Shit. I love him. So much.




“Vin, udah baikan?”
“kapan gue berantem ama dia sih?” balasku kepada Novi.Novi tersenyum,

“well, thats good”

Aku menghembuskan napas. Menurutku, itu gak bagus sama sekali.

“menurut gue, lo pantes buat mukulin dia Vin,” aku menengok, melihat Elyn yang nongol dari pintu kamar. Tangannya memegang panci berisi coklat. Ia berjalan masuk ke kamar dan duduk di sebelahku.


“I can’t” aku menunduk. Tersenyum terhadap kebodohanku sendiri.

“Do you trust with love at first sight?”
Mereka berdua terdiam sebentar,

“Just.. little” jawab Novi, Elyn mengangguk setuju,

“Well,” aku menjilat bibir,


“I was in love at first sight with Harry Styles five
months ago. And now i still love him, no matter this hurts. He is can’t be replace”
Aku tersenyum kepada mereka





“I must believe him. Must”



***threemonthslater

‘If you ever leave me, baby,... Leave some morphine at my door.. 'Cause it would take a whole lot of medication... To realize what we used to have-


Aku menyambar handphone-ku, siapa sih yang menelepon tengah malam begini?
“hello?” Aku menjawab tanpa melihat siapa yang menelepon
“Hello?”
Aku langsung duduk, “Harry?”

“Hello? Euuuuuugh Vincentia? Hellooow”



Tunggu, dia mabuk ya?

“Harry? Are you drunk?”
“Vincentiaaaa”
“Harry? Are you drunk? Where are you now?”


Aku berdiri, berjalan menuju lemari dan mencari jaketku.


“Vincentiaaa”
“Where. Are. You. now?!” aku berteriak
“ughhh, i’m in-“ “Harry? Are you woke up? Come on, go back to bed”



DEG.



Aku mematung.

Itu. Suara. Perempuan.




Dan apa katanya? Bed? Fuck.




“Harry, Where. Are. You. now?” aku menaha amarah
“Viincccccceeeeeennnnnntia”
“Harry? Harry!? Hey, answer me! Where ar-“
Tuuuttt.. tuuuuttt. Tuuuuttttt...



Holy shit. Double shit. Damn.
Fuck.


Aku mengambil jaket dan mengganti celana, mencoba menelpon Novi atau Elyn.
“Halo? Elyn?”
“Yes? Why ar-“
“can you ask Liam? Apakah dia bersama Harry atau tidak? Please”


“U-ogh, okey” Elyn mengangguk, ia mngerti keadaan. Baguslah. Aku sedang tak ingin berbicara banyak.

“Thank you”




Aku memasukkan handphone ke saku, memakai sepatu ku dan membuka pintu flat.







Firasatku mengatakan ini buruk.






*****SixDaysLater


Aku memandang kosong dari jendela cafe ini,
First date. Dulu itu selalu membuatku tersenyum mebayangkan first date ku dengannya, kini?
Sakit.


Aku masih mengingat senyumannya, lesung pipinya. Yang selalu membuatku ikut tersenyum.



Lima bulan. Terlalu banyak kenangan.
Oh come on Vincent, kamu gak boleh terbayang bayang terus.





That’s over.




Ugh, kenapa mengingatnya itu membuat mataku panas?
Aku berdiri dari tempat dudukku, mengambil bill dan membayarnya lalu keluar dari cafe.


Terakhir aku bertemu dengannya itu lima hari lalu, ketika ia datang ke flatku. Sehari setelah kejadian itu.

Aku hanya menatapnya kosong mekihatnya berdiri di pintu flatku. Sedangkan Harry sendiri kaget melihat penampilanku yangkacau.

Mata bengkak, rambut kusut, dan berantakan.

Well, ia menahan tangis melihatku seperti itu. Mau dikata apalagi? Jangan salahkan aku yang menangis semalaman karena memikirkan apa yang terjadi dengannya.


Ia berjalan ke arahku, tapi aku menahannya dan memandangnya nanar


“it’s over”




Untuk pertama kalinya aku membuat keputusan yang terberat dalam hidupku.


Dan yang terakhir kuingat, aku mendorongnya keluar dari pintu flat dan menguncinya, tak mendengarkan semua penjelasannya.


(Cuma buat nambahin biar enak dengerin lagu Bruno Mars- It will Rain, klo mau yang enak accoustic ininih http://www.youtube.com/watch?v=Q3lwo3FQe-A .sebenernya gue bilang mungkin aja gak ada hubungannya, tapi tetep aje gue demen..)




If you ever leave me, baby,






Aku mengadahkan tangan, merasakan rintik hujan yang turun pelan.




Leave some morphine at my door


Terjadi lagi, dua kali.



'Cause it would take a whole lot of medication



Rintik hujan itu kini turun dengan deras, yang kulakukan hanya berdiam diri. Menunduk.



To realize what we used to have,


Sakit. Sangat.



I won’t say Harry is bastard, no. He is not.



We don't have it anymore.



Because he took me out from the darkness.



Aku mengingat bait-bait It Will Rain di kepalaku, entah kenapa itu sangat mengingatkan kepada Harry.



u-egh, dengan langkah sebisaku dan kepalaku yang pusing aku mencoba berjalan menuju flat yang sudah dekat.


Tapi yang aku ingat terakhir kali hanyalah ketika lututku menyentuh tanah dan aku rubuh.
Dengan suara Harry yang berteriak.

If you ever leave me, baby,
Leave some morphine at my door
'Cause it would take a whole lot of medication
To realize what we used to have,
We don't have it anymore.

There's no religion that could save me
No matter how long my knees are on the floor(Ooh)
So keep in mind all the sacrifices I'm makin'
To keep you by my side
To keep you from walkin' out the door.

'Cause there'll be no sunlight
If I lose you, baby
There'll be no clear skies
If I lose you, baby
Just like the clouds
My eyes will do the same, if you walk away
Everyday it'll rain, rain, ra-a-a-ain







*****



Pening.


Aku mencoba membuka mata dan berusaha mengubah posisi menjadi duduk

Dimana ini? aku melihat sekeliling, ah kamarku.
Hah? Bagaimana bisa disini?

Dan saat itu aku baru sadar.



Seseorang sedang tidur di pinggir tempat tidur. Dari
rambut keritingnya saja sudah tahu.



Maybe it’s not funny if I say I miss him. So much.


Harusnya aku pura-pura tidur lagi, atau sekalian pergi entah kemana dan meninggalkan dia sendiri, atau mungkin memarahi dia.




Tapi yang aku lakukan malah menahan tangis dan bermain dengan rambutnya.


However this pain, i don’t care.



If you ever leave me, baby,... Leave some morphine at my door .....'Cause it would take a whole lot of medication.... To realize what we used to have,...



FUCK.


Mampus! Kenapa di saat gini hape bunyi sih?!
Aku mencari handphone-ku yang ternyata di samping bantal, dan me-reject siapapun yang menelpon. Aku menghembuskan napas lega dan berbalik.





Fuck.



Dia bangun.



Dan kini sedang menatapku, mematung. Aku? mematung juga.



“Vincentia” harry berkata pelan, bahakn seperti berbisik setelah tiga menit awkward.


“well..” i bit my lips.


“I miss you”


Aku mematung. Kenapa dia mengucapkan kata fatal?
Yang membuatku makin menyesal memutusi dia?


“I know i’m wrong”


Fvck.


“I know I've hurt you”


Aku menunduk, menyembunyikan air mataku yang sudah diujung.



“I know we broke up five days ago because my fault”

Ia menggenggam tanganku. Hangat.

“Vincentia, look at me”


“Hey, look at me please”

Aku menggeleng keras. Tidaktidaktidak.



Ia menggenggam wajahku dengan kedua tangannya, memaksaku melihat matanya yang hijau.


“Look. At. Me.”


Bola mata yang hijau itu melihatku. Langsung, Holy



shit. I couldn’t stop these tears.

“Hey, why are you crying?” ia menghapus tangisanku


“Don’t cry, I’m here I’m here” he hug me.




*


“Say something”



Aku terdiam “Mmh hm”


“that’s murmured, not saying”


Aku berpikir “Ask something”





Ia seperti berpikir, lalu tersenyum. Senyum jahil,


“Do you miss me?”






Shit.




“Well, em..” aku menatapnya, matanya seperti mengharap.





“Yes”




Ia tersenyum. Lebar. Hangat. Menggambarkan bahwa ia bahagia sekarang.


Entah kenapa, aku ikut tersenyum.



Tapi kutahan.


“can I ask one more?”



Aku berpikir. Tidak. Iya. Tidak. Iya. Tidak.






“Shoot”





Fvck. WHY I SAY THAT?!





Harry menatapku ragu,




“Well, em...” aku menatapnya, menunggu.





“Still love me?”








Aku mematung.



Apa yang harus kukatakan? Mengatakan iya?



“well,” aku menjilat bibir. “what do you think?”



“I just hope you still love me”



“for what?”

Ia menggenggam tanganku,


“for say ‘I want you come back to me’”



Aku mematung.



Sedetik.... dua detik... tiga detik..... empat detik...... lima detik..




ANJIR GAK BISA NAHAN SENYUM BO.



“Want the answer?” I smile


“Of course” dia tersenyum harap.










“well,” aku memeluknya, “I think you know the answer”



***
 
If you ever leave me, baby,
Leave some morphine at my door
'Cause it would take a whole lot of medication
To realize what we used to have,
We don't have it anymore.




***




MAAF YAAA CERITANYA TIJEL
MAAF YAAA ENDINGNYA TIJEL -_-


THANKS FOR READING! THIS STORY FOR and

ZLS by Cecen Part 3

ZLS by Cecen



***

ZAYN POV

She’s Sara! She’s SARA! I knew it!

“Sara? Sara Larsen?”

“Pardon me?” She looks confused. But then I take off my glasses, and she’s gasp. Why she always gasping when meet me? I thought she’s not Directioner. Well, she’s not.

“Zayn?! What-are-you-doing??” I open my mouth to explain everything but I hear the girls are screaming outside like crazy. “Fuck.” I swore.

“Please hide me in...somewhere. Please please please please?” I murmured.

“Okaaay? But ...what—how??” She still look confused. Lol she’s cuter when she’s confused.

“Explain it later.”

***

SARA POV

Zayn. Ada. Di. Sini. Saat. Ini. Juga. Jelas kaget lah! Seorang Zayn Malik ada di McD, McD-nya ada yang ada di pinggiran. Ternyata dia lagi dikejar-kejar fansnya pas dia iseng jalan-jalan. Katanya sih gitu. Ye siapa suruh iseng jalan-jalan haha.

“So, do you work here?”

“Yup. Part time. Sambil iseng aja daripada kuliah terus.” Kataku sambil mencomot kentang goreng.

“Kamu kuliah?” Dia keliatan kaget.

“Yup. Why?”

“No. Nothing.” He smiled. After 3 minutes awkward silent, Zayn akhirnya ngomong juga.

“Sara, can I ask you something?” dia menegakkan posisi duduknya.

“Shoot.”

“A few days ago, I've googled you and...”

I try to hold my laugh, but I can’t. Looking at his priceless face makes me laugh louder.

“Wha..what??”

“Well.. I can’t imagine, a teenage popstar Zayn Malik googling about an ordinary girl named Sara Larsen. How ridiculous!” I throw my hands in the air.

“Oh I know its embarrassing. But...thats true. Well..um..ok just forget about that!” He gave in.

“But...I watched your cover on Youtube. Two is better than one cover. You have a amazing voice, don’t you know that? And...Is that your boyfriend?”

I choked. “What? What boyfriend?”

Zayn membuka mulutnya untuk menjawab tapi tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namaku. Aku menoleh, dan ternyata itu Jordan.

“Hi Jordan! Come here.” He walks toward us. He smiled.
Aku berdiri ketika Jordan sudah sampe disampingku. Zayn pun ikut berdiri. Selama beberapa detik kita saling berdiam diri.

“Oh. Zayn, this is Jordan. Jordan, this is Zayn.” I said awkwardly.
They’re shaking hand each other.

“Um Sara, we have to go now.” Jordan said.

“Okay. Bye Zayn!” aku melambaikan tanganku.

“Wait..wait! Sara, can I have your number phone? Um maybe?” Kata Zayn agak gugup. Gugup? Why.___.

“Sure. +4477638xxx. Bye!” aku segera pergi karena Jordan sudah menarik-narik sikuku.

“What the hell is with you?!?!” kataku ketika kami sampe di mobil.

“I’m in hurry, you know.”

“Are you mad?”

“Yes.” Aku nunggu beberapa detik, mungkin dia bercanda. Tapi kali ini wajahnya serius banget sumpah nyeremin.

“What...why??”

“Because...HAHAHA look at your face. Its so hilarious! Seriously, I can’t even...HAHAHA.”
Sialan...dia ngerjain aku.

“Fuck you Jordan!” I hit his arm.

“Auw! It hurts! But, seriously... how do you know Zayn? I mean, he’s Zayn. Zayn...whatever-his-last-name-is- from One Direction. A popstar.”

“Hm...long story.”

“C’mon tell me!”

“Okayyyy. But, starbucks? I’m hungry.”

“I said...I’m in hurry. I have to meet Mr Tom, again.” He pinched my cheek.

“Hm...tonight?”

“Ayey lady! I’ll pick you at 7. Be ready.”

“Its on you right?” Maklum, lagi bokek. Haha-__-

“Well...umm.. I think...”

“Yep. Its on you. Okay then! Pick me at 7. Don’t be late! See ya later!” Kataku lalu keluar dan mobil.

“Hey I don’t even say that!” He shouted. But I ignored him haha.

***


“Can I help you?” kata mbak-mbak Starbucks yang cantik banget itu. Heran deh kenapa gak jadi model aja gitu._.

“Caramel Macchiato please. And you, what do you want Jessica?”

“I’m Sara, not Jessica.”

“But, your middle name is Jessica.”

“Ghhhh whatever. I’m too hungry to argue with you now. Umm...can I get Java Chip Frappuccino? And..oh! Cheese danish...and cinnamon chip scone. Thank you.” I put a wide smile on my face. Yummy...mumpung gratis gitu loh.

“Seriously? You need to go to gym tomorrow.”

“Gym? I don’t need that.”

“But...” kata-kata Jordan terpotong ketika pesanan kami datang. Well, aku sudah tau arah pembicaraannya. Pasti mau ngomong kalo aku makin gendut. Who cares?

“I’m jogging every morning Jordan.”

“Liar.” Tau aja sih nih orang kalo aku boong-__- Aku kan emang gasuka lari._.

“Whatever.” Capek lah kalo debat sama ni bocah-__- mending makan dengan tenang. Omg...I love this cheese danish :9

“So, tell me how do you know Zayn?”

Jadi aku ceritain tuh dari awal sampe akhir. Fyi, Jordan is a good listener. Dia Cuma ngedengerin gak nyela, kalo pun aku beri kesempatan komentar, dia komentar. Pokoknya asik banget lah.

“Do you like him?”

“Wait...what?!”

“Do you like him?” he repeated, half giggle.

“Yes of course I like him. I mean, not like like..like ah you know what I mean. I like him, because he’s very nice.” Aku menyesap frappuccino menyembunyikan rasa gugupku. Wait.....gugup?!?

Tapi aku benar kan? Siapa juga yang gak suka Zayn Malik? He’s nice. He’s talented. He’s friendly. And everything.

He’s laughing now. What de-___-

“What?? Who doesn’t like Zayn the famous Malik from One Direction?” I rolled my eyes.

“Wait...Malik?” Tiba-tiba wajahnya jadi serius.

“Yes. Malik. His last name.” Kataku sambil menelan potongan terakhir cheese danish-ku :(((

“Are you sure his last name is Malik?”

“Of course! Why? You can ask Hermione Granger if you don’t believe it. Or google, its 2012 mate.”

“I’m not good in mood now. Lets go home.” Kata Jordan lalu beranjak dari tempat duduknya. Yang bener aja?? Aku belom makan cinnamon chip scone-koeeehh :(((

“Wait!! I haven’t finish my cinnamon...oh shit Jordan wait!!” kataku menyusul Jordan setengah berlari. Dia kalo jalan cepet banget gila-__-


ZAYN POV

Telepon enggak telepon enggak...

“Hey mate! What you doing with that phone?” Niall said. His mouth full of chip.

“Nothing.” I sighed heavily.

“Call her.”

“Heyy how do—“

“I know you so well, mate. Ziall is real.” He smirked.

But it almost midnight. Gahhh my dilemma-__- oke fix. Telepon.

Calling SaraLarsen xx...

Beep 1...
Beep 2...
Beep 3... Maybe she’s sleeping..
Beep 4...

“Hallo?”

Oh God she’s answer my phone! Freakin out freakin out afghsjkx


SARA POV
Ini siapa lagi telpon jam segini-__- Udah bete gara-gara tugas sekarang malem-malem ada yang nelepon-_-

“Hallo?”

“Um..hello...umm Sara?”

Well, sounds familiar..his husky voice..um? Zayn? What?
“Yep..who is this?”

“I’m Zayn. What are you doing?”

“I’m doing my homework. Whats up?”

“Its not good for girls staying up all night, you know.”

Hening... Kenapa dia tiba-tiba ngomong kayak gitu. Kenapa juga dia telpon coba-__- Mau nyangkal tapi entah kenapa gak bisa.

“But I-I’m just saying.”

“Okaaaaayyy?”

Hening lagi. Demen banget sih suasana hening-__- Pingin ngomong tapi gatau mau ngomong apa toh yang nelepon dia kan?

“Sara, do you have a free time tomorrow?”

“Yeeess? After school. Why?”

“Meet me at Starbucks? How?”

“Its a date?”

“Maybe?”

“Okay then. See you tomorrow.”

“Bye.”

“Bye.”

Klik.
I have a date with Zayn the famous Malik from One Direction. Wait...Am I on Punk’d?

***

“Jordan Jordan Jordan guess what guess what!!” kataku pas ada break di kampus. Seperti biasa Jordan lagi duduk-duduk di taman sambil maenin gitarnya.

“What?” balasnya cuek sambil tetep main gitar. Ni bocah dari kemarin kenapa sihhh.

“I have a date.” I whisper, so close to his ear.

“Oh. With whom?” Ni anak kenapa sih gak enak banget jawabnya!

“What is with you?!”

“Nothing. Go on.” Aku berusaha mengabaikan kalimat-kalimat cueknya dan nerusin cerita.

“Yep. I have a date with...guess who Jordan guess who!?” I smiled.

“Oh c’mon Sara. Just tell me!”

Sabar ya Sara... Sabar... Tarik napas buang...

“I. Have. A. Date. With....Zayn Malik.”

“WHAT?! ZAYN MALIK NO HELL NO!” Jordan teriak sampe seisi taman kampus pada heran. Ini anak nyari mati sumpah.

“WHAT THE FUCK IS WITH YOU JORDAN COLDSIDE!!” Aku bales teriak and hit his arm with my book. Sumpah daritadi udah disabar-sabarin dia nyolot. Yaudah nyolotin balik aja kan?

Dia diem aja. Cuman keliatan banget dari matanya kalo dia marah. Kenapa sih? Perasaan kemarin malah nanyain gimana bisa kenal Zayn. Kenapa sekarang jadi berubah drastis.

“Are you in period or something?” Aku berusaha mencairkan suasana. Tapi kayaknya gak bisa.

“Not funny, Larsen.” Kata Jordan, nadanya masih penuh dengan amarah. Hening beberapa saat lagi.

“I have a date with Zayn Malik.” I repeated.

“No way.”

“Why? Tell me why Coldside.” I dare.

“You don’t have to know. But I won’t let you go out with him.”

Keras kepala! Dia pikir dia siapa sih ngelarang-larang seenaknya gitu!
“And who do you think you are?” kataku lirih tapi dijamin nusuk. Aku udah enggak tahan lagi ya soalnya.

“Ghhh you don’t understand!” Dia mengacak-acak rambutnya frustasi. Sumpah jadi takut, dia sebenernya kenapa sih?? Panik? Jelas!

“No, I don’t. I need your explanation.” Keep calm, Sara.

“I don’t like him. No no no I hate him. So much.”

***
ZLS by Cecen



***

ZAYN POV

She’s Sara! She’s SARA! I knew it!

“Sara? Sara Larsen?”

“Pardon me?” She looks confused. But then I take off my glasses, and she’s gasp. Why she always gasping when meet me? I thought she’s not Directioner. Well, she’s not.

“Zayn?! What-are-you-doing??” I open my mouth to explain everything but I hear the girls are screaming outside like crazy. “Fuck.” I swore.

“Please hide me in...somewhere. Please please please please?” I murmured.

“Okaaay? But ...what—how??” She still look confused. Lol she’s cuter when she’s confused.

“Explain it later.”

***

SARA POV

Zayn. Ada. Di. Sini. Saat. Ini. Juga. Jelas kaget lah! Seorang Zayn Malik ada di McD, McD-nya ada yang ada di pinggiran. Ternyata dia lagi dikejar-kejar fansnya pas dia iseng jalan-jalan. Katanya sih gitu. Ye siapa suruh iseng jalan-jalan haha.

“So, do you work here?”

“Yup. Part time. Sambil iseng aja daripada kuliah terus.” Kataku sambil mencomot kentang goreng.

“Kamu kuliah?” Dia keliatan kaget.

“Yup. Why?”

“No. Nothing.” He smiled. After 3 minutes awkward silent, Zayn akhirnya ngomong juga.

“Sara, can I ask you something?” dia menegakkan posisi duduknya.

“Shoot.”

“A few days ago, I've googled you and...”

I try to hold my laugh, but I can’t. Looking at his priceless face makes me laugh louder.

“Wha..what??”

“Well.. I can’t imagine, a teenage popstar Zayn Malik googling about an ordinary girl named Sara Larsen. How ridiculous!” I throw my hands in the air.

“Oh I know its embarrassing. But...thats true. Well..um..ok just forget about that!” He gave in.

“But...I watched your cover on Youtube. Two is better than one cover. You have a amazing voice, don’t you know that? And...Is that your boyfriend?”

I choked. “What? What boyfriend?”

Zayn membuka mulutnya untuk menjawab tapi tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namaku. Aku menoleh, dan ternyata itu Jordan.

“Hi Jordan! Come here.” He walks toward us. He smiled.
Aku berdiri ketika Jordan sudah sampe disampingku. Zayn pun ikut berdiri. Selama beberapa detik kita saling berdiam diri.

“Oh. Zayn, this is Jordan. Jordan, this is Zayn.” I said awkwardly.
They’re shaking hand each other.

“Um Sara, we have to go now.” Jordan said.

“Okay. Bye Zayn!” aku melambaikan tanganku.

“Wait..wait! Sara, can I have your number phone? Um maybe?” Kata Zayn agak gugup. Gugup? Why.___.

“Sure. +4477638xxx. Bye!” aku segera pergi karena Jordan sudah menarik-narik sikuku.

“What the hell is with you?!?!” kataku ketika kami sampe di mobil.

“I’m in hurry, you know.”

“Are you mad?”

“Yes.” Aku nunggu beberapa detik, mungkin dia bercanda. Tapi kali ini wajahnya serius banget sumpah nyeremin.

“What...why??”

“Because...HAHAHA look at your face. Its so hilarious! Seriously, I can’t even...HAHAHA.”
Sialan...dia ngerjain aku.

“Fuck you Jordan!” I hit his arm.

“Auw! It hurts! But, seriously... how do you know Zayn? I mean, he’s Zayn. Zayn...whatever-his-last-name-is- from One Direction. A popstar.”

“Hm...long story.”

“C’mon tell me!”

“Okayyyy. But, starbucks? I’m hungry.”

“I said...I’m in hurry. I have to meet Mr Tom, again.” He pinched my cheek.

“Hm...tonight?”

“Ayey lady! I’ll pick you at 7. Be ready.”

“Its on you right?” Maklum, lagi bokek. Haha-__-

“Well...umm.. I think...”

“Yep. Its on you. Okay then! Pick me at 7. Don’t be late! See ya later!” Kataku lalu keluar dan mobil.

“Hey I don’t even say that!” He shouted. But I ignored him haha.

***


“Can I help you?” kata mbak-mbak Starbucks yang cantik banget itu. Heran deh kenapa gak jadi model aja gitu._.

“Caramel Macchiato please. And you, what do you want Jessica?”

“I’m Sara, not Jessica.”

“But, your middle name is Jessica.”

“Ghhhh whatever. I’m too hungry to argue with you now. Umm...can I get Java Chip Frappuccino? And..oh! Cheese danish...and cinnamon chip scone. Thank you.” I put a wide smile on my face. Yummy...mumpung gratis gitu loh.

“Seriously? You need to go to gym tomorrow.”

“Gym? I don’t need that.”

“But...” kata-kata Jordan terpotong ketika pesanan kami datang. Well, aku sudah tau arah pembicaraannya. Pasti mau ngomong kalo aku makin gendut. Who cares?

“I’m jogging every morning Jordan.”

“Liar.” Tau aja sih nih orang kalo aku boong-__- Aku kan emang gasuka lari._.

“Whatever.” Capek lah kalo debat sama ni bocah-__- mending makan dengan tenang. Omg...I love this cheese danish :9

“So, tell me how do you know Zayn?”

Jadi aku ceritain tuh dari awal sampe akhir. Fyi, Jordan is a good listener. Dia Cuma ngedengerin gak nyela, kalo pun aku beri kesempatan komentar, dia komentar. Pokoknya asik banget lah.

“Do you like him?”

“Wait...what?!”

“Do you like him?” he repeated, half giggle.

“Yes of course I like him. I mean, not like like..like ah you know what I mean. I like him, because he’s very nice.” Aku menyesap frappuccino menyembunyikan rasa gugupku. Wait.....gugup?!?

Tapi aku benar kan? Siapa juga yang gak suka Zayn Malik? He’s nice. He’s talented. He’s friendly. And everything.

He’s laughing now. What de-___-

“What?? Who doesn’t like Zayn the famous Malik from One Direction?” I rolled my eyes.

“Wait...Malik?” Tiba-tiba wajahnya jadi serius.

“Yes. Malik. His last name.” Kataku sambil menelan potongan terakhir cheese danish-ku :(((

“Are you sure his last name is Malik?”

“Of course! Why? You can ask Hermione Granger if you don’t believe it. Or google, its 2012 mate.”

“I’m not good in mood now. Lets go home.” Kata Jordan lalu beranjak dari tempat duduknya. Yang bener aja?? Aku belom makan cinnamon chip scone-koeeehh :(((

“Wait!! I haven’t finish my cinnamon...oh shit Jordan wait!!” kataku menyusul Jordan setengah berlari. Dia kalo jalan cepet banget gila-__-


ZAYN POV

Telepon enggak telepon enggak...

“Hey mate! What you doing with that phone?” Niall said. His mouth full of chip.

“Nothing.” I sighed heavily.

“Call her.”

“Heyy how do—“

“I know you so well, mate. Ziall is real.” He smirked.

But it almost midnight. Gahhh my dilemma-__- oke fix. Telepon.

Calling SaraLarsen xx...

Beep 1...
Beep 2...
Beep 3... Maybe she’s sleeping..
Beep 4...

“Hallo?”

Oh God she’s answer my phone! Freakin out freakin out afghsjkx


SARA POV
Ini siapa lagi telpon jam segini-__- Udah bete gara-gara tugas sekarang malem-malem ada yang nelepon-_-

“Hallo?”

“Um..hello...umm Sara?”

Well, sounds familiar..his husky voice..um? Zayn? What?
“Yep..who is this?”

“I’m Zayn. What are you doing?”

“I’m doing my homework. Whats up?”

“Its not good for girls staying up all night, you know.”

Hening... Kenapa dia tiba-tiba ngomong kayak gitu. Kenapa juga dia telpon coba-__- Mau nyangkal tapi entah kenapa gak bisa.

“But I-I’m just saying.”

“Okaaaaayyy?”

Hening lagi. Demen banget sih suasana hening-__- Pingin ngomong tapi gatau mau ngomong apa toh yang nelepon dia kan?

“Sara, do you have a free time tomorrow?”

“Yeeess? After school. Why?”

“Meet me at Starbucks? How?”

“Its a date?”

“Maybe?”

“Okay then. See you tomorrow.”

“Bye.”

“Bye.”

Klik.
I have a date with Zayn the famous Malik from One Direction. Wait...Am I on Punk’d?

***

“Jordan Jordan Jordan guess what guess what!!” kataku pas ada break di kampus. Seperti biasa Jordan lagi duduk-duduk di taman sambil maenin gitarnya.

“What?” balasnya cuek sambil tetep main gitar. Ni bocah dari kemarin kenapa sihhh.

“I have a date.” I whisper, so close to his ear.

“Oh. With whom?” Ni anak kenapa sih gak enak banget jawabnya!

“What is with you?!”

“Nothing. Go on.” Aku berusaha mengabaikan kalimat-kalimat cueknya dan nerusin cerita.

“Yep. I have a date with...guess who Jordan guess who!?” I smiled.

“Oh c’mon Sara. Just tell me!”

Sabar ya Sara... Sabar... Tarik napas buang...

“I. Have. A. Date. With....Zayn Malik.”

“WHAT?! ZAYN MALIK NO HELL NO!” Jordan teriak sampe seisi taman kampus pada heran. Ini anak nyari mati sumpah.

“WHAT THE FUCK IS WITH YOU JORDAN COLDSIDE!!” Aku bales teriak and hit his arm with my book. Sumpah daritadi udah disabar-sabarin dia nyolot. Yaudah nyolotin balik aja kan?

Dia diem aja. Cuman keliatan banget dari matanya kalo dia marah. Kenapa sih? Perasaan kemarin malah nanyain gimana bisa kenal Zayn. Kenapa sekarang jadi berubah drastis.

“Are you in period or something?” Aku berusaha mencairkan suasana. Tapi kayaknya gak bisa.

“Not funny, Larsen.” Kata Jordan, nadanya masih penuh dengan amarah. Hening beberapa saat lagi.

“I have a date with Zayn Malik.” I repeated.

“No way.”

“Why? Tell me why Coldside.” I dare.

“You don’t have to know. But I won’t let you go out with him.”

Keras kepala! Dia pikir dia siapa sih ngelarang-larang seenaknya gitu!
“And who do you think you are?” kataku lirih tapi dijamin nusuk. Aku udah enggak tahan lagi ya soalnya.

“Ghhh you don’t understand!” Dia mengacak-acak rambutnya frustasi. Sumpah jadi takut, dia sebenernya kenapa sih?? Panik? Jelas!

“No, I don’t. I need your explanation.” Keep calm, Sara.

“I don’t like him. No no no I hate him. So much.”

***

Liam Short Story

LiSS by Fira




***

Hei, nama gue Liam. Tau kan? Gak tau? Serius? Masa lo gak kenal sama gue yang maha unyu ini? LIAM. JAMES. PAYNE. Catet tuh, catet. Yaudahlah, gak penting juga. Tapi apasih yang gak penting dari gue? Secara gitu, gue kan pujaan para wanita di belahan bumi ini~ #okesip.

Yauds, intinya gue lagi liburan di Bali. Gue lagi berjemur dengan tenang tanpa ada yang ganggu. Kenapa nggak ada fans? Nggak, bukan karena gue gak terkenal. Masa seorang Liam Payne yang kece badai gini gak punya fans -,- Sekarang gue lagi nyamar jadi James Bond. Ohiya, kalo nama gue jadi Liam James Bond unyu juga ya :3 Ya enggak lah, kali gitu gue pake tuxedo di pantai -__- Gue lagi pake kacamata item pemberian Zayn dan megang alat squidward. Tau alat squidward gak? Itu loh semacam kaca buat nangkal sinar matahari (gue juga gatau itu nama sebenernya apaan). Masih gatau juga? Google it.

Gue lagi sibuk memindai cewek di tepi pantai. Gak ada yang bagus. Tapi ada satu cewek yang menarik mata. Dia lagi jalan ke arah gue. Gue nurunin kacamata item gue sedikit. Dia tambah ngedeketin gue dan tiba-tiba……..

“OH MY GOSH, YOU’RE LIAM JAMES PAYNE!” dia teriak sampe segerombolan cewek di tepi pantai tadi ngeliat gue dan teriak gak karuan. Gue panik dan ngelempar alat squidward gue. Gue narik tangan cewek yang teriak tadi buat lari *modus*. Untung gue mantan atlet lari, jadi cepet B) tapi cewek itu…. BEUH, gilak, larinya cepet bat, kayak Astuti dikejar Satpol PP. nah, sekarang gantian, jadi dia yang narik gue. Dia nyuruh gue masuk ke tenda Spongebob. Tau tenda Spongebob gak? Itu loh, tenda kecil buat ganti baju. Ruangannya gelap, sempit. Dan kita Cuma berdua……

Untung udah ngumpet disini. Setelah suara derapan kaki cewek-cewek (?) lenyap, dia histeris sendiri. Loncat-loncat. Kejang.

“OH MY GOD, thanks for listening all of my prayers. Thank you, THANK YOU SO MUCH. Oh my, I’m meeting him. GOSH, I’M MEETING LIAM JAMES PAYNE. God, I know you never sleep. Aywrfejybgyryhweq8ihjrw!!!”

Dia. Ngomong. Apa…. -____-

Oke, gue cukup seneng bias ngebuat cewek histeris. Gue tau kok, gue sadar kalo gue itu gantengnya dewa. Tau, TAU BANGET!

Gue mutusin buat stay cool aja. Gue keluar dari tenda buat ngambil alat squidward gue tapi ditahan. Cewek itu narik tangan gue dan menjabatnya.
“Hey, I’m Micheel,” kata dia sambil senyum.

***

Yauds, kita jalan ke villa si Micheel yang kebetulan deket dari pantai. Kita ngobrol banyak, bias dibilang dia ngobrol sendiri. Bukannya gue kejem apa gimana tapi tiap gue mau ngomong pasti diselak. Mungkin dia udah tau banyak tentang gue, kan dia Directioners. Tiba-tiba dateng segerombolan ababil seumuran kita.

“UWAA! Ada bule telanjang!!!” kata bocah berambut klimis. Telanjang apaan, gue masih pake celana woy, situ buta? Si Micheel langsung ngambilin baju buat gue dan langsung gue pake.

“Lo siapa?” kata bocah satu lagi. Kayanya dia gapunya tipi dirumah.

“Gue Liam,”

***

Abis kenalan, gue tau yang rambutnya klimis itu namanya Joko. Semoga Joko dapet pencerahan. Abis rambutnya kayak Astuti gitu, belah tengah.
Mereka semua pada ngajakin main ke club. Awalnya gue gak mau ikut karena alas an tertentu. Yah, you know lah… tapi karena Micheel ikut, yaudahlah gue mau. Daripada disuruh ngejagain villa.

***

Sampe di club, gue bengong. Bingung mau ngapain, soalnya jarang ke tempat beginian. Sekalinya pernah, Cuma ngejagain para bocah (baca: the boys) biar mainnya gak kelewatan. Nah, untung Micheel gak ikut main sama temennya. Dia nemenin gue di sofa. Kali ini dia gak histeris lagi. Kita tukeran nomer hape, email, dan lainnya. Tiba-tiba para bocah ababil dateng bawa sebotol alkohol kosmetik. Engga deng, maksudnya minuman alkohol.

“Nih. Yang gaberani minum cupu!” kata Joko.
So, yang lain pada minum. Micheel pun ikut minum, sampe akhirnya tinggal gue yang belom minum.

“Cupu lo, yem,” kata si Joko. Dikira gue bayem kali, bayem kece B)

“Sebenernya gue mau aja. Tapi… tapi gue takut nanti minumannya udah dioplos pake mecin,” kata gue, ngeles seadanya.

“Tau lo, Yem. Cupu ah, gaasik,” kata Micheel. Kenapa dia nggak belain gue? Dia kan Directioners, pasti tau kenapa…. Gak terima dikatain Micheel cupu, gue langsung nenggak minuman itu.

“Tuh, Yem. Sekali-kali coba ngegawlz kek gini dong,” kata Agung, titisan Hercules. Gue berasa bangga udah ngeyakinin mereka kalo gue gak cupu. Tapi, kok perut gue sakit ya… apa iya gue dapet? Tiba-tiba gue jatoh dan gabisa inget apa-apa lagi.

***

Micheel’s POV

Besoknya gue ditelepon Liam. Tapi om Paul yang nelepon. Katanya Liam lagi dirumah sakit. Apa gara-gara yang kemaren ya… Aduh, bego banget gue, bukannya nyegah dia malah mincing dia begitu. Maafin gue ya, Yem… gue jalan ke rumah sakit yang kebetulan deket villa gue.

Pas gue ke kamarnya Liam, udah ada the boys yang lain. Kalo nggak inget ini rumah sakit, gue udah histeris, jungkir balik terus salto di langit-langit kamar kali. Untung Liam sakit, jadi gue bias ketemu mereka *kejam*

“Lo Micheel ya?” Tanya Harry.

“Iya….” Tau darimana dia, jangan-jangan sebenernya mereka berlima udah tau gue dari twitter dan terpesona. Dari dulu mereka ngestalk gue… #okesip

“Micheel? Bukan Michelle? Kata Niall.

“Iya, Micheel bukan Michelle, Niall…”

“Loh, lo tau darimana nama gue. Kita kan belom kenalan?” kata Niall.
…………………………………
*AWKWARD SILENCE*
Kayanya Niall belom makan deh, otaknya kelaperan…

“Liam dimana?” Tanya gue mengabaikan Niall. The boys langsung masuk kedalem dan gue ngikut. Gue ngeliat Liam berbaring tak sadarkan diri.

Gue nemenin Liam, sementara the boys yang lain mau main. Udah 2 jam dia belom bangun juga. Terus hape gue bunyi. Mama nelepon.

“Cheel, buruan ke London ya. Nenek lagi sakit nih.”

“Oh, yaudah, Ma.”

Ini si Liam digimanain. Mana Om Paul lagi ngejagain bocah main. Yaudah, gue jalan ke pantai buat minta izin sama Om Paul. Para bocahpun ngehampirin gue.

“Mau kemana, Cheel?” Tanya Zayn.

“Mau ke bandara, mau pulang,”

“Yah… Tapi nanti sering-sering main kesini ya,” kata Niall.
………………………………………….
*AWKWARD SILENCE*

Kayanya kelaperan Niall mulai kronis. Biasanya dia yang paling pinter gitu. Yaudah gue ajak makan aja. Sekalian mau ngerjain mereka *evil laugh*
Gue ngajak mereka makan ayam bakar.

“Ini makanan apaan, Cheel?” Tanya Niall.

“Oh, ini peri-peri chicken ala Indonesia. Sama-sama grilled chicken tapi bumbunya manis.

“Ooh, kalo ini apaan?” Tanya Louis nunjuk segumpal benda berwarna merah. Sambel. Ide licik gue pin tumbuh :>

“Ini bumbu peri-perinya. Enak deh, ambil yang banyak…” gue langsung ngoper ‘bumbu’ itu ke mereka. Niall langsung napsu ngambilnya.

Yaudah, gue makan dengan tenang karena udah biasa pedes. Haha, it will burn your tongue, lads :)))

“Anjir, Cheel…” kata Niall sambil melet-melet. Gue udah senyum-senyum aja. Behakhakhak, rasain!

“Cheel.. Ini. Enak BANGET!” kata Niall yang langsung disetujui bocah yang lain.

JLEB. Gagal total. Gue sedih sampe harus garuk tanah…

“Iya. Emang enak, kok, hehe,” kata gue males sambil ketawa maksa. Bodo ah, minta Harry yang bayar. Untung Harry menerima tawaran dengan senang hati.

Yaudah, karena udah mau sore, gue ke bandara ditemenin 4 bocah kepo. Abis beli tiket, gue langsung ke terminal 2F. Si bocah-bocah kepo itu kayaknya MPO (Menarik Perhatian Orang) abis. Yaudah gue suruh balik ke rumah sakit dan untungnya mereka nurut. Ohiya, lupa mintanomer hape mereka w(‘A’w) Karena mau naik pesawat, hape gue matiin.

***

Liam’s POV

Setelah sekian lama tertidur *apa ini* gue ngeliat suatu sosok yang tidur di ujung ranjang gue. Kok Micheel rada botak, rada gendutan? Karena penasaran, gue ngedeket, sosok itu bangun. Gue kaget. Gue teriak. Gue kejang. Dia juga ikut teriak.

“AH! Bang Paul ngagetin aja ih,” kata gue.

“Sori-sori. Udah enakan belom, Yem?” kata Paul, ngikut manggil gue bayem. Yaudah, besok gue ganti nama aja jadi Bayem James Bond -___-

“Iya, udah. Yang lain mana? Lagi ngelayap ya?”

“Iya, nemenin Micheel ke bandara.”

Mampus, Micheel mau kemana? Gue nelpon Micheel tapi hapenya gak aktif.
Yaudah gue langsung minta Paul nyetirin (pake mobil nyewa) ke bandara. Mana gue masih pake baju pasien gini. Untung Paul ngebawain baju. Oh, Paul Doraemonku... Aku sayang kamu :*

Sampe di bandara, gue langsung nanya mbak-mbak petugas disana.

“Ngeliat 1 cewek sama 4 cowok tijel lewat sini nggak?”

“kalo ceweknya ngga. Tapi kalo 4 cowoknya barusan ke, ngg…. Itu dia,” mbak itu nunjuk ke arah the boys. Mereka nenteng kantong plastik indomaret sambil ngejilat es krim pedelpop. Kaya bocah emang, semuanya MKKB. Gue ngehampirin mereka.

“Ada lagi nggak?” kata gue.

“Nih.” Harry ngasih kantong plastik itu.

Wah, es krim rasa kola dengan jeli stroberi di dalamnya!
Hampir lupa, gue nanyain Micheel dimana.

“Di terminal 2… 2 berapa ya?” kata Niall yang es krimnya udah abis. Gue kasih aja es krim gue yang tinggal separo.

“Oh, terminal 2E!” kata Niall. Gue langsung lari kesana. Micheel nggak ada dan pesawat disitu udah take off. Cedih lacanya :””

Gue balik ketempat bocah. Lesu… gue ngeliat Niall makan es krim (lagi).

“Gimana, ketemu nggak?” kata Zayn.

“Nggak…”

“Oh iya, tadi salah. Harusnya terminal 2F!” kata Niall santai.

“Haduh, Ni! Gimana sih?” rasanya pen gue tabok.

“Lagian ngasih es krim cuma separo, ingetnya juga separo.” “Ohiya, katanya pesawat take off jam 4, Yem.”

*AWKWARD SILENCE*

Gue langsung ke terminal 2F. gue ngeliat jam. Udah jam… 10? Yaelah, belom ngeset jam. Yaudah, gue lari, kayanya tinggal 3 menit lagi. Pas gue liat, ada ja di bandara, udah jam 4 lewat 10 menit. Gue melanin kecepatan, dan pas udah sampe, pesawatnya udah take off. Gue balik arah dengan lesu. Tepatnya butuh shower. Tiba-tiba ada yang nyolek punggung gue. Siapa nih?

“Woi, Yem,” kata orang itu.

“Eh? Micheel? Kok belom berangkat?”

“Oh, jadi lo pengen gue cepet pergi gitu? Oke, fine.” Dia langsung ninggalin gue.

“Bukannya gitu,” gue langsung narik tangan dia.

“Delay 20 menit.”

Kita ngobrol 10 menit. Pas udah waktunya berangkat, dia ngasih gue kalung. Kalung manik-manik warna pink berbandul boneka. Nggak lah ya. Dia ngasih gue simple necklace yang kaya punya Harry. Pas pesawatnya udah take off, gue lupa nanya dia mau kemana. Dan gue gasempet jujur sama dia tentang perasaan gue… Huft, eyke galau…

Bocah-bocah pada nyamperin gue. Gue nanya Niall si Micheel mau kemana. Dia Cuma diem. Yaudah, gue sogok aja pake es krim satu.

“Gak tau, dia gak bilang,” kata Niall pas es krinya udah abis.
WHAT THE…. -________-

Gue langsung balik ke rumah sakit. Kata dokter gue udah boleh pulang. Ya iyalah, orang kemaren gue gak kenapa-napa Cuma sakit perut doing. Terus yang bagian ‘gue gak inget apa-apa lagi’ itu Cuma mendramatisir #okesip.

Yaudah, gue balik aja ke Inggris. Ngapain disini, udah gak seru. Gak ada Micheel. Gue balik sendiri doang karena bocah yang lain masih pada betah disini.

***

Micheel’s POV
Apa-apaan mama nyuruh cepet-cepet kesini. Dikirain nenek sakit parah, taunya cuma diare -___- Kapan lagi gue bisa ketemu sama idola sendiri dan hangout sama mereka… Tapi tumben, London siang-siang begini masih adem. Jalan-jalan ke Hyde Park ah~

Gue duduk di bangku taman sendiri sambil baca novel. Tiba-tiba ada yang duduk di sebelah gue. Gue nengok sedikit dan ngeliat kalung yang udah gue kenal banget.

“Loh, Liam?” ucap gue pelan. Dia hanya tersenyum kecil.

***

Jumat, 17 Agustus 2012

ZLS by Cecen - Part 2


Chapter 2


***



Finally! Sampe juga di flat baru. Belum beres-beres. Great. I’m so tired now-__- Gara-gara tadi ketemu sama Mr. Tom dan Jordan 2 jam sendiri, padahal masih jetlag. Yang penting urusan beasiswa beres! Well, I forgot to introduce Jordan. Dia senior aku di kampus. We met accidentally hehe I met him on omegle 1 year ago. Sooo we’re friends now! He’s like my big brother :’) Let me describe him. His hair is brunette, same like me. His eyes...I think he has a slant eyes. He has beautiful green eyes. And he always wears glasses. I don’t know why, but he always said that his sight is bad. Oh I think I know the perfect words to describe him. He looks like Cameron Mitchell. Yep, the fabulous Cameron Mitchell. Well, Cameron also has a slant eyes, hasn’t he? But he’s not Cameron, haha he’s Jordan. Jordan Coldside, the only person I knew in this country. OH! I forget something important, Jordan’s voice is a-ma-zing.
Aku duduk di sofa dan mau nyalain tv hape aku bunyi. JordanCold! Xx calling...

“You supposed to sleep now!” Belom juga aku nyapa dia udah ngomong duluan-___-

“Hehe. And why are you calling?”

“I’m just checking. Go to sleep NOW! And then meet me in McD near your flat at 3 p.m.”

“Okay...” Aku melirik jam di meja. Well, masih jam 12, ada waktu buat tidur.

“Go to sleep NOW!” he shouted and hang up the phone geezz.

Ok tidur di sofa aja dah...

***

Hello. My name is Sara Jessica Larsen. I’m 18 years old now wuhoooo! Aku dapet beasiswa untuk kuliah di UK. My luck. 3 months ago, my dad passed away. Dia punya penyakit kanker. Berbulan-bulan koma di rumah sakit. Dan semenjak itu aku jadi benci rumah sakit. HAHA aneh ya-__-

Ok forget about my dad, I mean, aku gasuka ngomongin masa lalu. My father taught me to face the future and not look back in the past. I’m mixed, ibuku orang Indonesia dan ayahku orang Amerika. Tapi ayah di makamkan di Indonesia, dengan alasan, grandma
& grandpa;enggak mau dibayang-bayangi ayah terus. Since my father passed away, we moved to US, and now I’m in UK for study.

***

McDonalds, 3.15 p.m

“Um...jadi pingin kerja part-time.” Jangan tanya kenapa! Tiba-tiba pingin aja ngeliat mbak-mbak di McD...kayaknya asik gitu. Nah Jordan kesedak gara-gara aku bilang gitu.

“WHAT?!”

“Hey calm down.” Aku menepuk-nepuk punggungnya.

“Ah I know, you gotta be kidding.”

“No I’m not kidding. Lumayan buat nambah penghasilan dan pengalaman.” Kataku nyomot french fries-nya Jordan.

“You’re not old enough.”

“I’m 18. And I’m old enough.”

“No you’re not!” He still argued me.

“Oh. Try me?” aku gemes dan langsung beranjak ke booth pesen makanan.

“Hey where are you going?” I didn’t answer that and keep walking. Pas udah sampe di booth
buat pesen makanan.
“Um excuse me, Miss. Can you help me?”

***

Aku diterima kerja part-time di McD. Yeppie! Gajinya lumayan buat tambah-tambah. Tapi Jordan masih agak ngambek aku part-time disana. Gak tau kenapa dia gak setuju, alasannya ya karena aku belom cukup umur-_- It doesn’t make a sense, isn’t it?

“Hey...” sapaku pas ada break di kampus. Aku liat Jordan lagi main gitar di taman kampus.

“Oh hey.” Flat :/

“Still mad?” I sat next to him.

“I’m not mad.” Still flat and his eyes focus on his guitar. I hate when I talk to someone and they’re not looking back at me. Seriously.

“You know what? I hate when I talk to someone and they’re not looking back at me. Have I told you before?”
Dia mendongak. Taddaaa berhasil haha. He just staring at me so I give a-confused-and-‘so’- look.

“Can you just respect my opinion?” Nah dia ngambek bener kan.

“I try. But can you just respect my decision?” Skak mat. Dia hanya diam dan memandangiku.
“With one condition.”

“What is it?” I dare.

“Sing with me.”

“WHA
—??”

“And post it on youtube.”

“DOUBLE WHAT??BUT--.” You know what? Aku gasuka nyanyi. Tapi kalo dengerin musik demen ba
nget. Gak tau kenapa. Soalnya suaraku jelek._.

“No but. Lets do it.” He said pulling out his laptop from his bag.

“Now?? In here??”

“Yep.”

“But
—“

“I said, no but. C’mon!” Ok dia udah buka camera-nya dan klik record. Holy fudgecakes.

“Hello guys! I’m Jordan
Coldside, and this is my best girl,” dia menoleh minta aku buat ngenalin diriku. Ok calm down Sara. Act cool act cool.

“I’m Sara Larsen.” I smiled. Fake smile actually-__-

“We’re here to sing a song, called Two Is Better Than One by Boys Like Girl ft Taylor Swift.” He smile
d.

“Hope you guys like it.” Dan mulai mainin gitarnya. Oke tarik napas buangggg. Act cool Sara!!
(Bayangin suara/coveran mereka kayak gini guys, tapi wajahnya enggak ya._. yang cowok kayak Cameron Mitcheel, kalo gatau google it. Bayangin aja : http://www.youtube.com/watch?v=8hBZeYxb290)

***

Kerja kerja kerja its time to work! Kata Jordan dia gak ngambek lagi asalkan aku mau diajak nyanyi dan di post di youtube lagi kapanpun dia mau. Kurang maksa apa coba? Well, katanya cover-an kemarin udah 987,576 viewers. Wow close to 1 million! Dan...oh ya. Ada satu syarat lagi, katanya kalo mau kerja dan pulang Jordan mau ngantar jemput. Aku gak nyuruh sih, tapi dia maksa-__- My big brother :’) How sweet :’)

“Pick me at 5 o’clock?” Kataku sambil melepas seatbelt.

“Ok. Um... Sara?” He grabs my hand, stop
ping me.

“What?” He didn’t answer me. He keep biting his lips.

“Whattt? Hello??” I replay. Raising my eyebrows.

“Um no. Nothing. Just...be safe. Bye.”

“Okaaayy? Bye.” Aku membuka pintu mobil dan berlari kecil lewat pintu belakang.

“Hellloooo Prissy! What’s up?” Kataku kepada Prissy setelah ganti pakaian. She’s 40 years old but she’s nice. I like her.

“Hey! Ohya kamu sekarang gantiin aku ya. I have to go now. My daughter...she’s on hospital right now.”

“What??”

“No worries baby. She’s fine. Eh I don’t know but I’m sure she’s fine. Byee.”

“Okay bye! Take care!” I shouted. God bless them. I met her daughter once, and she’s really really really nice.

Aku berjalan ke booth makanan gantiin Prissy. Lagi sepi sih, tapi dari pintu depan aku melihat cowok pake topi, kacamata, jaket hitam, dan pake syal. Ha. Nyeremin asli. Well, he’s getting closer now. I’m paranoid. Closer and closer. And...he’s right in front of me. Ok calm down Sara. Smile..

“Good afternoon, Sir. Can I help you?” I said. Hope my voice’s not tremble.
“Sara? Sara Larsen?”


Sorry for bad grammar :/ I’m still learning :/
Ok guys, thanks for reading. I’m glad you like it
J
Btw, big thanks to my team @1Dindo_FF for helping me finish this chapter.
Thanks to Novi, Shafa, Ghina, Una, Elin, Fira, Nia, Amel, Farra, Cheel, and Jessi.
Next chapter? Review from you guys means a lot.
-Vincentia xxx